Tampilkan postingan dengan label Petrik Matanasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petrik Matanasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2008

Bang Ben Ngerock!

Oleh
Petrik Matanasi


ANAK MUDA
jaman sekarang mungkin hanya mengenal Benyamin Sueb sebagai pelawak dari film-film komedinya produksi dekade 1970-an, yang sering diputar televisi. Banyak yang kurang mengenal sebagai musisi rock pada jamannya. Orang lebih mengenal Benyamin sebagai musisi tradisional dengan gambang kromong Betawi-nya.

Benyamin memang menjadi legenda dunia hiburan dan panggung komedi Indonesia. Dia juga telah menjadi inspirasi dan panutan, bagi seniman muda Indonesia. Kiprah Benyamin sebagai musisi rock n’ roll pada paruh kedua dekade 1960-an seperti terlupakan, padahal lagu Kompor Mledug terbilang dahsyat sebelum God Bless dan raksasa rock tanahair lainnya muncul dalam kancah musik rock Indonesia.

Wajah Benyamin kerap hiasi layar kaca Indonesia tahun 1970-an. Film Benyamin umumnya adalah genre komedi. Film Benyamin mendapat tanggapan positif publik. Film Intan Berduri yang dibintanginya mendapatkan Piala Citra pada 1978. Benyamin juga pernah memerankan tokoh Doel dalam Si Doel Anak Modern bersama rocker Ahmad Albar.

Benyamin juga pernah merintis karir sebagai musisi sebelum terjun ke dunia film pada 1970-an. Benyamin pernah memainkan gambang kromong hingga rock n’ roll. Di dunia musik Benyamin cukup cemerlang. Sebagai musisi rock Benyamin bisa dibilang sukses. Selama Orde Lama berkuasa, tidak akan ada Beatles, Bee Gees, Everly Brother dan musik lainnya, rock dilarang pada dekade 1960-an. Namun, Benyamin seolah melawan meanstream politik yang ada. Soekarno melarang lagu barat yang 'Ngak Ngik Ngok' seperti rock n roll. Orang Orde Lama bilang musik rock adalah musik setan. Seperti juga Koes Bersaudara, Benyamin juga pernah merasakan bui karena ideologi musiknya yang nekad membawakan lagu barat.

Lagu rock n roll paling sukses dipasaran yang dibawakan Benyamin adalah Kompor Mledug. Lagu ini keluar dipasaran setelah musim anti rock n roll baru saja berlalu. Aransemen lagu ini bisa dibilang ngerock pada tahun perilisannya, dengan iringan organ dan sound drum yang unik. Mungkin saja arransemen lagu ini tergolong mutakhir pada zamannya. Tentu saja aransemen lagu ini dipengaruhi langsung musik rock n roll dari luar. Lagu ini seperti judulnya juga mledug di pasaran.

Lagu Kompor Mledug memiliki persamaan, walau tidak 100%, dengan lagu-lagu rock n roll yang diusung Naif selama beberapa tahun terakhir ini. Naif bahkan pernah bermimpi untuk berkolaborasi dengan Benyamin, namun Benyamin keburu meninggal. Mereka memiliki kecocokan, 'retro banget'.


Benyamin Sueb lahir di Kemayoran, Jakarta, 5 Maret 1939. Bang Ben memang sosok panutan. Kesuksesan di dunia musik dan film membuat namanya semakin melambung. Benyamin telah menghasilkan 75 album musik dan 53 judul film yang ia bintangi adalah bukti keseriusannya di bidang hiburan tersebut. Perhatian Benyamin pada gambang kromong, secara tidak langsung, mentasbihkannya sebagai maestro kesenian Betawi. Benyamin meninggal dunia pada 5 September 1995 akibat serangan jantung. (PM, lihat juga di: Istori van Nusantara.blogspot.com)

selengkapnya >>>

Kamis, 10 Januari 2008

Rock Cengeng AKA yang Abadi

Oleh Petrik Matanasi


PIRINGAN HITAMKU pernah memutar lagu bagus. Judulnya Jeritan Seniman milik band AKA yang dikomandani oleh Ucok “Kribo” Harahap. Melankolis memang, tapi itu lagu punya makna dalam untuk seniman yang sering diklaim bermasa depan suram. Lagu itu bisa dibilang cukup cengeng, lirik dan musiknya “ngeblus” (sedih, tapi bukan lagu yang menyedihkan secara kualitas).

AKA memang band aliran cadas Indonesia zaman retro dulu. Uniknya, lagu-lagu mereka yang kata orang "cengeng" kerap direquest di radio-radio yang memutar lagu-lagu lama, atau yang memiliki acara yang menyajikan lagu-lagu jaman dulu (jadul). Sebenarnya, sebagai band cadas memang diakui dengan aksi panggungnya yang cukup sarang zaman dulu, mungkin belum ada yang meniru kegarangan AKA di atas panggung.

AKA kependekan dari Apotik Kali Asin, apotik milik keluarga Ucok Harahap di Surabaya. Ucok Harahap, rocker kribo yang sekarang menyepi di kaki sebuah gunung di Jawa Timur, itu tidak lain otak dari AKA, vokalis yang juga memainkan organ. Personil AKA yang lain adalah Arthur Anez Kaunang -ayah artis Tessa Kaunang. Basis kidal itu lulusan sastra Inggris di sebuah PTN di Surabaya. Ada juga Sunata Tanjung yang memainkan gitar, yang cukup diakui kualitasnya, serta Syech Abidin bertugas menabuh drum.

AKA mengikuti perkembangan rock dunia. Awalnya mereka kerap memainkan lagu-lagu Jimi Hendrix. AKA seperti band rock lain juga menikmati jaman kebebasan musik rock di Indonesia, tidak seperti senior mereka, Koes Bersaudara, yang dibui oleh rezim penguasa Orde Lama.

Lagu-lagu AKA umumnya keras, apalagi yang berbahasa Inggris. Mereka juga memiliki lagu yang bisa dibilang komersil karena diminati masyarakat umum, yang mungkin saja tidak suka musik rock. Lagu Badai Bulan Desember, Seniman dan Biola, atau Jeritan Seniman masih sering direquest orang-orang yang pernah muda di dekade 1970-an. Dua lagu tadi bisa dibilang lagu cengeng.

Seperti umumnya kala itu, lagu AKA diiringi sound dari organ Hammond. Iringan itu, walau terkesan jadul bahkan kuno oleh anak jaman sekarang, lagu tadi menjadi semakin kuat karakternya, walau tidak sepopuler Whiter Shade of Pale milik Procol Harum yang sepertinya irama lagu itu menjiplak dari Air in G String-nya Johan Sebastian Bach. Sound Organ Hammond mungkin tidak saja dipakai oleh AKA, tapi juga band lain. Bagaimanapun sound itu seperti air abadi untuk band-band jaman dulu, termasuk Badai Bulan Desember, Seniman Dan Biola, dan Jeritan Seniman milik AKA. Do What you Like adalah album AKA yang cukup kesohor di negeri ini. Beberapa mereka berbahasa Inggris. Untuk ukuran Indoensia, beberapa lagu mereka cukup eksperimental juga, seperti apa yang dibuat Pink Floyd di belahan dunia lain.

Aksi panggung AKA cukup sangar. Seperti suatu kali di awal konser, Ucok pasang aksi atraktif dengan gantung diri. Konser AKA selalu ramai dipadati penggemar rock fanatik. Sejatinya, AKA patut disejajarkan dengan God Bless. Sayang, AKA tidak seeksis God Bless. AKA menghilang pada dekade 1990-an. AKA tinggal nama, tak lagi pentas. Namun, apa yang direkam AKA tak pernah mati. Lagu mereka, apalagi lagu-lagu cengeng, kerap diputar oleh penggemar atau radio yang masih gemar akan lagu-lagu lawas.

Pascavakumnya AKA, selain Ucok Harahap, tiga personil lain -Syech Abidin, Arthur Anez Kaunang, dan Sunata Tanjung- membentuk SAS yang merupakan kependekan dari nama mereka. Musik mereka tidak sekeras AKA namun cukup sukses di mata publik karena musik rock di dekade '80-an tidak lagi sekeras jaman sebelumnya, yang kendati menyebabkan pamor rock pada dekade itu sedikit menurun.

AKA membuat para personilnya jadi selebritis. Ucok Harahap pernah bermain dalam film-nya Rhoma Irama, Darah Muda, sebagai rocker bengal dengan geng motornya, sedangkan Rhoma tentu saja dapat peran jadi jagoan. Film tadi seperti memposisikan rock sebagai sebagai musik orang-orang bengal yang tidak memiliki kegiatan positif. Padahal ada rocker yang jadi astronom seperti Brian May, atau pengusaha yang cukup sukses semisal Ikang Fawzi, juga simak kegiatan Hary Mukti atawa Gito Rollies sekarang.

Hampir semua personil AKA belakangan menjadi orang-orang yang religius. Rock juga mengantarkan mereka menjadi itu secara tidak langsung. Ucok konon diberitakan menjadi paranormal. Mereka tetap berkesenian, namun tidak ngerock seperti dulu. Usia mereka tidak lagi cocok untuk membawakan lagu-lagu pemberontakan ala Rock. (Patrik Matanasi)

Gambar AKA diunduh dari: musiklawas.blogspot.com

selengkapnya >>>

Rabu, 09 Januari 2008

Deg-Deg-Plas Rock n’ Roll Indonesia

Oleh Petrik Matanasi

SUATU HARI
di bulan Desember 1999, aku mengalami kejadian yang tak akan kulupa. Ayahku marah dan punggungku dipukul. Kendati aku tidak mendendam, setelah kejadian itu aku langsung kabur. Entah kemana aku lupa, pokoknya lari dan lupakan semua!

Semua bermula dari kegemaranku pada lagu-lagu tempo dulu. Satu-satunya hiburan dihunianku yang sempit waktu kecil hanyalah piringan hitam. Ya, piringan hitam milik ayah dan itu adalah barang paling berharga miliknya. Ayah akan marah bila kuputar lagu Speed King dari piringan hitam Deep Purple miliknya. Dia nyaris memukulku waktu aku ketangkap basah sedang memutar lagu tersebut. Sejak itu, selama beberapa waktu aku tidak berani menyentuh barang keramat milik ayah itu lagi.

Persetan dengan kawan-kawan yang merasa hebat dengan lagu Backstreet Boy (Gila, ada juga anak-laki-laki penggemar Boyband). Entahlah, aku pun juga tak begitu tahu tentang kehebatan –seperti yang dibilang ayah– band-band legendaris semacam The Beatle's, Queen, atau barang kali Pink Floyd. Aku lebih tertarik mencari tahu nama besar mereka.

Aku pernah menonton di film tentang Beatles, dan aku tidak begitu paham. Hanya tergambar di kepalaku band itu selalu membuat para gadis jaman itu menjerit histeris. Pernah juga aku mendengar Presiden Soekarno melarang karya-karya Beatles beredar di Indonesia, Ngak Ngik Nguk katanya. Lagu-lagu barat dinilai tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Negara rupanya berhak mengatur selera musik rakyat yang mereka tindas. Pemerintah waktu itu, seperti sering dihimbau dalam suratkabar Harian Rakyat milik Partai Komunis Indonesia (PKI), masyarakat diminta menyerahkan piringan hitam Beatles atau musik barat lainnya secara sukarela. Rasanya tidak ada pemuda pecinta rock n’ roll yang rela menyerahkan piringan hitamnya.

Pemerintah Orde Lama paling paranoid soal musik. Koes Bersaudara, misalnya, harus masuk bui karena nekad membawakan lagu I Saw Her Standing There. Dalam acara itu, keributan terjadi, atap di tempat konser dilempari batu oleh orang-orang yang katanya pendukung revolusi Soekarno yang anti kapitalis.

Kejatuhan Soekarno memberi nafas bagi musik rock di Indonesia. Di masa-masa kebangkitan ini, Koes Plus merekam dan merilis Deg Deg Plas (1969). Album ini tidak terlalu sukses penjualannya karena masyarakat masih trauma dan belum bisa menerima lagu-lagu dengan jenis seperti itu. Beberapa lagu dalam album Deg Deg Plas di antaranya seperti Manis dan Sayang, Derita, Awan Hitam, Kembali Ke Jakarta, atau Cintamu Telah Berlalu, yang kemudian justru populer bahkan hingga kini, meski harus mengalami penolakan terlebih dahulu sebelum publik bisa menerimanya.

Tersebutlah seorang pemuda kelahiran Tuban, Jawa Timur, pada 19 Januari 1936 bernama Koestono Koeswoyo. Putera dari seorang pegawai negeri di Departemen Dalam Negeri ini begitu tertarik pada musik rock n’ roll yang sedang mengila di Barat sana. Tony Koeswoyo, begitu orang mengenalnya, lalu mengajak saudara-saudaranya yang laki-laki untuk membentuk band keluarga. Tony setidaknya pernah bermain band bersama kawan-kawannya dalam grup Teruna Moeda, yang salah satu personilnya adalah Sopan Sophiaan, mantan fungsionaris PDI-P dan anggota DPR.

Band itu kerap mendapat job menggung. Kendati bayarannya tidak seberapa, namun mereka sudah senang bisa pentas selain bisa makan gratis dalam pesta-pesta remaja yang kerap mengundang mereka tampil. Namun, band itu juga tidak tanpa usaha. Mereka juga berusaha menyambangi sebuah perusahaan rekaman. Nama besar yang terlibat dalam rekaman itu adalah Jack Lesmana, ayah Indra Lesmana dan Mira Lesmana.

Bagi Tony Koeswoyo, musik adalah hidupnya, meski pada awalnya bukan sebagai mata pencaharian yang menjanjikan (Tony sempat bekerja di Perkebunan Nusantara). Tony terus melangkah bersama band-nya yang berubah nama dari Koes Bersaudara menjadi Koes Plus. Dua adik Tony, Yon dan Yok tetap bersamanya. Abang mereka, Jhon, yang pernah ikut dalam band, belakangan tidak ikut lagi. Namun Jhon merelakan sebagian gajinya dipakai untuk membeli peralatan bermusik. Jhon, seperti juga ibu mereka, sering menjadi sasaran omelan Koeswoyo yang tampak tidak rela anak-anaknya bermain band karena masa itu menjadi musisi tidak akan bisa hidup mapan.

Tony memimpin adik-adiknya dan anggota baru mereka Murry dalam Koes Plus. Band ini kemudian menjadi legenda musik Indonesia. Mereka berjaya pada kurun 1970-an dengan lagu-lagu yang easy listening dan sederhana. Musik yang diusung Koes Plus menjadi pelopor perkembangan musik pop setelah kejatuhan Soekarno. Tony dan saudara-saudaranya harus merasakan penjara karena kegilaan mereka ini. Meski Koes Plus tidak nge-rock di tahun 1970-an, tetapi mereka seperti menjadi pembuka lembaran baru bagi perkembangan musik rock tanah air lewat album Deg Deg Plas -yang oleh sebagian pihak dianggap gagal dari sisi penjualan namun memiliki beberapa lagu pop yang legendaris.

Apapun musik yang diusung Tony Koeswoyo, sangat munafik jika menggeser namanya dari jajaran tokoh musik rock tanah air. Perjuangan Tony yang kerap mengusung lagu-lagu The Beatles diawal karir musik adalah usaha berani yang membuat mereka harus di bui di penjara Glodok.

Aku ingat lagi di tempat ayahku tinggal sekarang, piringan hitam Deg Deg Plas itu masih ada. Lagu-lagu mereka masih nyaman didengar. Omongan kawan-kawan sekolahku yang mencela seperti juga lagu-lagu lama, termasuk karya Koes Plus, adalah ketinggalan zaman, kuanggap hanya sebagai omong kosong. Laiknya anak kecil, mereka hanya tahu bahwa yang terbaru adalah yang terbaik. Musik adalah masalah selera. Setiap penikmat musik punya ukuran sendiri mana musik yang bagus. Anak kecil hanya bisa bilang musik terkinilah yang terbaik.

Album gagal dalam penjualan tidak selamanya buruk dari sisi musikalitas. Entah apa yang dipikirkan Tony. Orang pada masa itu boleh saja memasukan rekaman mereka ke tong sampah. Sekarang album yang katanya dulu tidak laris itu masih kerap diputar, walau semakin jarang yang memutarnya sekarang ini karena orang lebih “menyukai” lagu-lagu baru biar tidak ketinggalan jaman, kata mereka. Bagaimanapun, Tony Koeswoyo, Koes Bersaudara, serta Koes Plus menjadi salahsatu matarantai dalam perkembangan msuik pop tanah air hingga seramai dan beragam seperti sekarang ini.*
(P.M)

selengkapnya >>>

Negara Imagine John Lennon

Oleh Petrik Matanasi

ENTAH APA yang terlintas di kepala John Lennon. Bayar pajak memang mengesalkan. Mungkin Lennon enggan, tapi rasanya uangnya tak akan habis hanya untuk bayar pajak. Negara lahir untuk menghindari kekacauan. Nyatanya, kekacauan yang dilenyapkan negara hanya menghasilkan pembungkaman yang menusuk sisi-sisi kemanusiaan atas nama negara. Mungkin itu yang dibenci Lennon dari negara.

Benar adanya bila banyak orang yang mati negara--namun tidak semuanya dilabeli pahlawan, karena banyak juga yang dilebeli sebagai pengkhianat. Seperti halnya sejarah, negara juga dibangun dengan lumuran darah. Ketika Republik ini dibangun pun bergalon darah tercecer oleh Revolusi--tidak heran bila Soekarno bilang, bahwa Revolusi pasti akan mengorbankan anaknya--pada awal kemerdekaan Republik mimpi ini.

Lantas, bila negara terbangun apakah akan selesai tetesan darah itu? Rasanya belum darah masih akan menetes entah untuk siapa? Katanya untuk negara. Lantas orang miskin akan bertanya, siapa itu negara? Apakah negara itu orang-orang kaya? Orang kulit hitam di Afrika Selatan zaman Apartheid bertanya, apakah negara itu orang-orang kulit putih. Di Burma orang juga pasti bertanya, apakah negara itu milik kaum mayoritas?

Negara nyatanya tidaklah milik rakyat--padahal negara disetting untuk melayani kebutuhan manusia yang bernafas naungan wilayah yang diklaim negara itu. Apa yang banyak terjadi, Negara tidak lebih dari institusi yang didominasi orang-orang kolot.

John Lennon bukan negara
wan--
walau nama tengahnya Winston yang dicomot dari nama Winston Churchild. Imagine there no country, seperti dalam lirik lagu Imagine rasanya kurang dipedulikan orang. Lagu anti perang dan penindasan itu kerap dinyanyikan ketika terjadi bencana alam. Lagu ini sebenarnya bukan menggugat alam kejam buah tangan Tuhan ini. Imagine lebih bicara tentang kebodohan manusia.

Lennon memang bukan sejarawan, namun Lennon merasa Negara juga pe
nindas. Lihat saja zaman raja Louise di Perancis. Zaman sekarang, dimana manusia merasa merasa paling beradab dari masa sebelumnya, Negara masih tetap dengan jiwa yang sama--hanya dengan wajah berbeda saja. Ini zaman dimana demokrasi adalah wajah negara di dunia.

Negara kerap merasa menjadi penguasa dunia. Seperti kata Marx, negara adalah institusi yang berhak menggunakan kekerasan kepada rakyatnya. Dengan kata Marx itu, betapa kaum komunis juga komunis, tidak memiliki konsep negara ideal ala Marxis. Mengapa harus ada Uni Soviet pascaRevolusi Rusia Oktober 1917. Marx sendiri tidak berkoar soal negara kecuali menggugat sistem kapitalis--di mana negara-negara besar di Barat bersekutu dengan pemilik modal. Di mana rakyat sebagai manusia diperbudak. Negara bisu ditengah derita sebagian besar manusia oleh injakan sejarah. Negara bahkan menjadi kaki yang menginjaknya.

Imagine, tanpa Lennon sadari, berusaha menghentikan penginjakan kaki sejarah atas manusia—“menghapuskan penghisapan manusia atas manusia" kata Marx. Lennon bukan Marxis yang inginkan Negara tidak ada—kecuali masyarakat Sosialis bagi kaum marxis tapi entahlah masyarakat macam apa yang diinginkan John Lennon.

Bayangkan bila tidak ada negara. Tidak akan ada orang yang mati untuk negara juga tidak ada kekerasan. Itu yang terngiang pada pertengahan lagu Imagine yang ditulis John Lennon. Sayang lagu itu lebih banyak dianggap bualan Lennon saja—padahal tidak sulit membayangkannya kecuali mewujudkannya. Dunia, bagi banyak manusia, butuh Tuhannya sendiri. Negara, Tuhan manusia di dunia itu, akan murka bila meresapi lagu Imagine-nya John Lennon itu—juga bila membaca tulisan ini, sendiri.

*Didedikasikan untuk John Lennon yang ditembak mati Mark David Chapman 27 tahun lalu di New York, Amerika Serikat.
(10 Desember 2007, Petrik Matanasi)
Diunduh dari: jemaridewa.blogspot.com

selengkapnya >>>